Jan
08

Nimma “Tritique” Fahrima, Bicara Scarf dengan Teknik Tritik

Author // Time to Scarf

Berawal dari kegemarannya mengoleksi scarf, Nima Fahrima mulai menekuni dunia fashion. Salah satunya adalah mengkreasi scarf dengan teknik tritik. Bersama Almira Firmansyah, alumnus Kriya Tekstil ITB yang juga kawan mainnya sejak kecil dia pun lantas mendirikan Tritique (April, 2009), label untuk koleksi scarf yang dikreasinya. Berikut adalah hasil bincang-bincang Time to Scarf dengannya.

***

Bagaimana ceritanya muncul ide mengkreasi scarf dengan teknik tritik?

Ketika teman baikku (Mia Firmansyah) mengerjakan tugas akhir kuliahnya, ternyata dia mengambil topik kajian tentang tritik. Aku langsung tertarik dengan itu. Mia sendiri sudah mempelajari tritik sejak dia mengambil mata kuliah kerja praktik. Kebetulan waktu itu dia kerja praktik di Obin. Dari pengalamannya di Obin itu dia pun menulis tugas akhirnya dengan topik tritik.

Aku menemukan sesuatu yang menarik dari teknik tritik. Aku melihat tritik itu unik. Dengan mempertimbangkan peluang pasar, begitu selesai kuliah, aku dan Mia memutuskan membuka usaha di bidang fashion menggunakan teknik tritik.

Dan karena kami ingin membuat masyarakat tahu tentang tritik, kami memutuskan membuat label dengan nama "Tritique". Sehingga ketika orang bertanya "apa arti tritique", kami akan menjawab,"tritique diambil dari nama teknik tritik itu sendiri".

Pada awalnya kami mencoba membuat produk Tritique untuk kain bawahan, sebagai alternatif pengganti kain sarung batik. Lama-kelamaan, kami pun mencoba untuk mengolah kain tersebut menjadi sesuatu yang lebih berguna, seperti scarf, blouse, rok, dan juga dress. Sampai sekarang, yang paling banyak diproduksi adalah scarf. Selain proses pembuatan yang lebih sederhana, scarf koleksi Tritique akan membuat penggunanya terlihat lebih menarik.

Apa keunggulan teknik tritik?

Tritik itu purely handmade. Jadi, motifnya hanya ada satu untuk satu produk. Begitupun produk-produk yang dihasilkan Tritique, satu produk satu motif, limited edition.

Keunggulan lainnya, motif tritik itu unik. Teknik tritik­-nya itu sendiri yang membuat pattern-nya menjadi unik.

Untuk penambah kreasi desain, kami menggunakan teknik tie-dye/jumputan. Teknik tie-dye sendiri merupakan bagian dari teknik celup-rintang. Pattern tritik mampu menghasilkan pola seperti melukis menggunakan cat air. Dapat menghasilkan warna yang membaur antara warna yang satu dengan warna lainnya.

Teknik tritik sendiri pada dasarnya dihasilkan dari jahitan. Dari jahitan itulah mengasilkan titik-titik di kain. Sementara kerutan-kerutannya adalah hasil tarikan dari jahitan. Prosesnya lumayan menghabiskan waktu.

Bagaimana proses membuat scarf dengan teknik tririk?

Kita harus memilih kain yang bersahabat dengan pewarna, baik pewarna alami maupun pewarna buatan. Setelah kain tersedia, kita membuat pattern-nya. Supaya garis-garis yang dibuat di atas kain hilang, kita harus menggunakan spidol khusus mewarna, atau pensil warna water color.

Setelah pattern dibuat kita mulai menentukan pola jahitannya, plus teknik jahitan yang akan dipakai. Tekniknya sendiri macam-macam. Ada teknik jelujur, lipit, pilin. Itu adalah tiga teknik yang sering dipakai, karena cenderung lebih mudah. Ketiga teknik itu mampu menghasilan pattern yang berbeda.

Setelah proses menjahit pattern selesai, kita melakukan penarikan benang. Nah, proses ini yang sebenarnya melelahkan dan ribet. Soalnya kita harus menarik benangnya dengan hati-hati. Proses penarikan benang tersebut menentukan pattern yang akan dihasilkan.

Penarikan benang akan menghasilkan kerutan dan efek warna splash bila sudah mengalami pencelupan. Penarikan bisa dilakukan satu kali, dua kali atau bahkan tiga kali. Misalnya kita melakukan penarikan dan pencelupan pertama. Setelah itu biarkan kain setengah kering, lalu kita melakukan penarikan dan pencelupan kedua. Proses itulah yang menghasilkan efek splash.

Proses pencelupan macam-macam. Bisa satu kali celup, dua kali atau bahkan tiga kali celup. Setelah proses pencelupan selesai, kain harus dikeringkan dengan cara diangin-anginkan. Sebaiknya tidak terkena sinar matahari langsung untuk menjaga agar warna waru dari kain tersebut tidak rusak.

Setelah kain lembab, maka kita bisa membuka pola jahitannya. Setelah itu dijemur kembali sampai kering. Setelah kering, kain sudah dapat digunakan sebagai scarf. Proses finishing-nya macam-macam. Bisa dibiarkan pure dari pattern jahitan, bisa juga ditambah hiasan seperti manik-manik.

Kain apa yang dipakai untuk membuat scarf dengan teknik tritik?

Bahan yang dipakai katun, chiffoni dan sutera. Sampai saat ini ketiga bahan itu yang sering dipakai. Bahan paling bagus adalah sutera. Namun, harganya lebih mahal dibanding katun dan chiffon.

Kain sutera lebih bagus dari segi penyerapan warna. Contohnya seperti kita melukis dengan cat air di kertas HVS dengan melukis di kertas khusus untuk melukis. Hasilnya akan beda. Ketika kita menggunakan media kertas khusus untuk cat air akan menyerap warna lebih sempurna dibanding kertas biasa. Kain sutera lebih bersahabat dengan pewarna. Jadi lebih mempermudah proses pencelupan.

Warna dasar kainnya sendiri adalah hasil dari pencelupan. Misalnya kita mau mencelup dua kali. Pertama dengan warna merah dan kedua dengan warna biru. Warna yang akan dihasilkan dari perpaduan kedua warna tersebut akan menjadi dasar dari kain itu sendiri.

Warna asli kainnya akan tertutup setelah melalui proses pencelupan. Warna asli kain yang dipakai untuk membuat scarf macam-macam, meski yang diutamakan warna-warna cerah, agar warna hasil pencelupannya bisa lebih keluar. Karena itulah mengapa kita harus memilih kain yang bersahabat dengan proses pencelupan.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat scarf dengan teknik tritik?

Untuk membuat satu scarf dengan teknik tririk dan pattern sederhana kurang lebih membutuhkan waktu tiga sampai lima hari. Karena tergantung cuaca juga. Untuk scarf berukuran 100 cm2 dengan pattern rumit seperti batik bisa diselesaikan dalam waktu kurang lebih sepuluh hingga empat belas hari.

Untuk membuat pattern dan menjahit dibutuhkan waktu kira-kira dua sampai empat hari, tergantung kerumitan pattern-nya. Bila benar-benar rumit bisa sampai satu minggu. Selain itu tergantung juga berapa kali melakukan proses pencelupan.

Sampai saat ini Tritique membuat pattern bebas. Soalnya kita masih mengejar target pasar menegah. Gak mau terlalu idealis dalam membuat pattern.

Dari mana memperoleh kain-kain untuk bahan scarf?

Macam-macam. Kalo pengen katun yang oke, Jepang pusatnya. Seperti edisi terakhir kemarin kain yang dipakai untuk scarf benar-benar katun dari jepang.  Kalau di Bandung paling kain-kain biasa.

Sama halnya dengan pewarna, kadang-kadang untung-untungan mendapatkannya. Di Bandung koleksinya kurang lengkap. Untuk pewarna kita suka memesan ke pemasok dari Yogyakarta. Pewarna yang dipakai buatan dan alami. Untuk menghasilkan warna ngjreng, pakenya pewarna buatan. Kalau untuk warna-warna pastel atau lembut, pakenya pewarna alami. Kekurangannya pake warna alami itu lebih ribet. Tapi warna yang dihasilkan lebih bagus. Benar-benar terlihat alami.

Sampai sekarang Tritique sudah memiliki berapa koleksi scarf?

Kita sudah pernah bikin edisi sutera, katun jepang, katun paris dan edisi chiffon.

Bagaimana respon pasar terhadap scarf dengan teknik tritik?

Kalau aku lihat dari Pasar Seni ITB kemaren responnya bagus. Orang-orang melihatnya unik. Cuma teknik tritik memang susah dapat pasar yang “membumi”, karena mahal. Nanti kita lihat respon pasar di acara Trademark Paris Van Java.

Itu adalah event semacam Brightspot, ajang bagi para pengusaha muda dan indie untuk menampilkan karya-karyanya. Trademark juga begitu konsepnya.

Kemana saja Tritique memasarkan produk-produknya?

Nah, itu dia. Rada bodor sih sebenarnya (agak lucu sebenarnya-ed). Kemarin sempat mau masukin ke salah satu butik di Bandung, tapi modalnya belum cukup. Gak jadi deh… Jadi sekarang sistemnya masih berdasarkan pesanan dan bila ada event.

Tritique rada lama geraknya. Aku sama partner-ku sama-sama sibuk dan kepentok modal. Jadi aku menunggu bayaran dari proyek-proyek interior dulu. Ho… ho…. ho…

Apa rencana besar Tritique ke depan?

Pengen banget bisa buka toko di Grand Indonesia. Soalnya di situ ada daerah yg khusus untuk para desainer muda Indonesia (Alun-alun Indonesia-ed). Pas banget ‘kan?! Keren ‘kan tempatnya. Terus nampang Tritique di situ. Bisa lebih keren kayaknya. Ha...ha… ha…

Profil Tritique
Pendiri
Nama Lengkap : Nimma Fahrima
Kelahiran : Bandung, 8 Juli 1986
Pendidikan : Jurusan Interior Design, Institut Teknologi Nasional, 2004
Nama Lengkap : Almira Firmansyah
Kelahiran : Bandung, 12 Maret 1986
Pendidikan : Jurusan Kriya Tekstil, Institut Teknologi Bandung, 2004
Contact
Contact Person : Mia / 085624075854
Blog : http://tritique.blogspot.com/
Email : This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

 

Photos by Nugraha Wirajati

Comments  

 
#2 nugraha wirajati 2011-03-07 00:29
Salam,
Mau kasih info aja, alamat blog tritique yg baru n benar ada di:

http://mytritiquethings.wordpress.com/

trims yaa ^^
Quote
 
 
#1 iena 2011-01-14 16:33
inspiratif kak!! good Luck for your project!! salam kenal^^
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Terkini

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10

Bandanna

Bandanna

Pecinta film cowboy, pendaki gunung dan pengendara motor besar tidak asing dengan kain berbetuk segi empat bujur sangkar, kebayakan bermotif...

Read more

Misteri Scarf

Misteri Scarf

Kematian seorang perempuan penari terkenal Amerika pada era perang dunia pertama sontak mengejutkan. Isadora Duncan meninggal dalam sebuah lilitan scarf-nya...

Read more

Creative Kanawida, Berkreasi dengan Pewarna Alam

Creative Kanawida, Berkreasi dengan Pewarna Alam

Kanawida berarti warna warni (bahasa Kawi). Alam telah menganugerahkan warna-warni yang luar biasa. Bayangkan jika dunia ini hanya berwarna hitam...

Read more

Scarf: Here, There and Everywhere

Scarf bisa dibuat dari macam-macam bahan. Bisa dipakai kapanpun dan dimanapun. Begitu pula cara mengenakannya. Kebanyakan tidak menerapkan pola lipatan...

Read more

Nyatakan Kasih dengan Scarf

Nyatakan Kasih dengan Scarf

The Love Scarf Project adalah proyek yang bekerja mengumpulkan scarf buatan tangan dan topi untuk disalurkan kepada para penderita kangker...

Read more

Nimma “Tritique” Fahrima, Bicara Scarf dengan Teknik Tritik

Nimma “Tritique” Fahrima, Bicara Scarf dengan Teknik Tritik

Berawal dari kegemarannya mengoleksi scarf, Nima Fahrima mulai menekuni dunia fashion. Salah satunya adalah mengkreasi scarf dengan teknik tritik. Bersama...

Read more

Mengenali Sedikit Keragaman Scarf

Istilah scarf mungkin tidak asing bagi kebanyakan orang. Menariknya, tidak semua orang bisa mengenali mana scarf dan bukan, bahkan oleh...

Read more

Hati-hati Memilih Warna Bandanna!

Hati-hati Memilih Warna Bandanna!

Artikel berjudul Bandanna yang dimuat di Timetoscarf.com, 5 Januari 2011 sempat menyinggung soal bandanna dan sub-culture gang. Kini kami akan...

Read more

Kisah Keffiyeh

Kisah Keffiyeh

Pada 2006 toko-toko pakaian seperti Le Chateau, TopShop, H&M, dan Urban Outfitters mulai menjual scarf jenis keffiyeh/kufiya. Tak berselang lama,...

Read more

Scarf Pendaki Gunung

Scarf Pendaki Gunung

Scarf bagi anggota perhimpunan pendaki gunung, atau sering disebut juga pecinta alam memiliki nilai tersendiri, berbeda dengan scarf yang biasa...

Read more
Share |